Kala cahaya
condong ke
setempat hutan kayu itu
mengguyurkan kilau keemasan atas bebatang pohon...
Melantun dan berfikir adalah dahan yang bersambung pada puisi
Mereka mengecambah dari Ada dan menyelam ke lubuk kebenarannya
Kekariban mereka memaksa kita berfikir tentang
apa yang ditembangkan Holderlin ihwal pepohonan hutan kayu:
"Dan satu sama lain tak saling kenal, selama mereka tegak berdiri,
batang-batang yang berjajar-rapat itu"
Hutan menebar
Anak sungai tercebur
Bebatuan mengokoh
Embun buyar
Padang rumput menanti
Mata air menyumur
Angin diam
Berkah tercenung
..Walau melewati jalan yang berbeda, tetapi tetap saja kita akan sampai di tempat yang sama. Dimana hati ini merasa sepi, takut dan bertanya-tanya. Apakah hidup ini suatu karunia ataukah ujian ?.
Kita kerap mengenang bila melewati jalan berliku. Sebiru apa langit dan laut pernah berwarna. Sekelam apa malam pernah menumpahkan resah kepadamu. Belumlah tentu kita akan menemukan tanda tanda, untuk mengenali diri sendiri, mengetahui misteri hidup ini.
Hidup bukan hanya sebuah kampung yang dapat kita tinggalkan lalu kita pulang lagi. Kadang hidup ini sebuah penantian- tetapi bukan seperti di terminal atau di halte, dimana bus hanya menurunkan wajah-wajah asing. Di tempat ini, keramaian datang hanya sekejap, air matapun juga datang semusim sesekali. Hujan yang turun juga bukan selalu berkah. Kadang menyajikan cuaca buruk, demam, lalu kita tertidur. Dan disaat bangun pagi, kita toh masih merasa kehilangan....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment