Ombak Anyer yang membasahi tubuhmu
Bagai perasaanku kepadamu
Maka ketika kau tak ada lagi di tepi pantai
Desirku merangkai nada rindu
Dan ketika pagi kau datang untuk melihat sunrise
Aku tetap mencoba menyentuh kakimu
Yang masih ragu membasah
O, Awan senja di barat daya
Setia melukis langit warna delima
O, pantai utara yang begitu panjang
Sepanjang perjalananku mencari cinta sejati
Karena cinta yang ada di dunia ini
Akan seketika sirna
Bagai lukisan tato, di kakimu
"Writing is a journey to a discovery"
Sidoarjo Mud
Everymorning i rise a devotion
Everyday i collect passion
Everynight i maintain yearning
To build a true love
20.11.08
13.1.08
Mengenangmu
Mampukah kulalui musim penghujan ini
tanpa tarik nafas yang panjang
tanpa termangu dalam ruang lift yg kosong
menuju koridor putih nan dingin
maaf jika aku salah menjenguk kamar hatimu
karena yang kau butuhkan hanya :
perhatian, perhatian dan perhatian
dan smsmu yang kemarin sore belum ku hapus :
“klise ya?”
Mei 97
tanpa tarik nafas yang panjang
tanpa termangu dalam ruang lift yg kosong
menuju koridor putih nan dingin
maaf jika aku salah menjenguk kamar hatimu
karena yang kau butuhkan hanya :
perhatian, perhatian dan perhatian
dan smsmu yang kemarin sore belum ku hapus :
“klise ya?”
Mei 97
13.3.07
Duka Hujan
Pada acara pergantian musim,yang datang hanya angin
Selalu angin membawa segelintir daun kering
Hujan tak seperti biasa, datang terlambat
Biasanya ia turun lebih awal
Karena ia begitu senang menyiram tanaman depan rumah
dan memasang pelangi diatas lembah kampung
Aku pikir musim yang baru akan tiba
Aku sudah lama disini menanti
Di sisi genangan air yang terakhir
Di ujung ladang yang paling tandus
Aku ingin cepat kembali bersama kerabatku di Sahara
Awan mulai mengambil foto landmark kota
Kemudian hujan turun sambil menyapu kabut, merajuk:
Hai kemarau, engkau yang belum waktunya pergi !
Aku baru saja istirahat diatas Himalaya
Baru pulang mengisi oase yang paling jauh
Memenuhi kendi-kendi para pengendara onta
Ceritakan pada kami bagaimana tsunami kemarin lalu ?
Kota yang lama aku suburkan kini hancur
Aku kecewa padamu hari ini
Kenapa engkau pergi begitu saja !
Angin sendiri takkan kuasa menahan laju tsunami
Pada acara pergantian musim
Kemarau yang telah pergi, tak menjawab
Mereka berdua hanya bisa saling memandangi
Satu lukisan surealisme di tanah Aceh
Angin tak mengerti apa apa
Bumi dan langit juga tak bersalah-
mereka : naif !
Bukan aku saja yang sedang bersedih, berkata hujan
Tetapi kami semua !
Laut, matahari dan langit yang menyimpanku dalam awan
Ingin aku menjadi airmata kehidupannya
Sekali-kali mereka ingin menangisi bumi bersama manusia
Gunung-gunung hanya bisa bersedekap
melihat bumi tak kuasa menahan kesabarannya
Pada acara pergantian musim-
musim menangis malah yang datang
menyela...
Selalu angin membawa segelintir daun kering
Hujan tak seperti biasa, datang terlambat
Biasanya ia turun lebih awal
Karena ia begitu senang menyiram tanaman depan rumah
dan memasang pelangi diatas lembah kampung
Aku pikir musim yang baru akan tiba
Aku sudah lama disini menanti
Di sisi genangan air yang terakhir
Di ujung ladang yang paling tandus
Aku ingin cepat kembali bersama kerabatku di Sahara
Awan mulai mengambil foto landmark kota
Kemudian hujan turun sambil menyapu kabut, merajuk:
Hai kemarau, engkau yang belum waktunya pergi !
Aku baru saja istirahat diatas Himalaya
Baru pulang mengisi oase yang paling jauh
Memenuhi kendi-kendi para pengendara onta
Ceritakan pada kami bagaimana tsunami kemarin lalu ?
Kota yang lama aku suburkan kini hancur
Aku kecewa padamu hari ini
Kenapa engkau pergi begitu saja !
Angin sendiri takkan kuasa menahan laju tsunami
Pada acara pergantian musim
Kemarau yang telah pergi, tak menjawab
Mereka berdua hanya bisa saling memandangi
Satu lukisan surealisme di tanah Aceh
Angin tak mengerti apa apa
Bumi dan langit juga tak bersalah-
mereka : naif !
Bukan aku saja yang sedang bersedih, berkata hujan
Tetapi kami semua !
Laut, matahari dan langit yang menyimpanku dalam awan
Ingin aku menjadi airmata kehidupannya
Sekali-kali mereka ingin menangisi bumi bersama manusia
Gunung-gunung hanya bisa bersedekap
melihat bumi tak kuasa menahan kesabarannya
Pada acara pergantian musim-
musim menangis malah yang datang
menyela...
Tepi Kali Serayu
Kalau mau mampir menulis puisi
Datanglah kemari sore-sore lewat jembatan
Lalu telusuri tepi kali Serayu
Samar kau akan dengar suara kekasih alam
Disela angin muara lembut
gugurkan bulu-bulu jagung muda
Rasakan bagaimana mesra pelukan senja
yang dihias sekelompok walet
Disini ditepi kali Serayu
pasti iri menjadi makhluk tuhan yang lain
Menjadi gerimis meluncur terjun ke daun-daun kuping gajah
Gabung ke kabut menyentuh segala pucuk pinus
Apa menjelma embun pagi menyapa kembang kecubung
Jika menginap di rumah-rumah desa disini
Angin malam akan terus membelai rambutmu dari jendela
Dibelakang rumah, ilalang berbunga kesekian kali
Para belalang mencoba melompati bulan
Jangan berhenti mengerdipkan matamu sampai pagi hari
Kalau perlu, bawalah cangkirmu ke tepi kali Serayu
Kata-kata paling indah akan muncul
dari kopi hangat yang masih mengepul
Datanglah kemari sore-sore lewat jembatan
Lalu telusuri tepi kali Serayu
Samar kau akan dengar suara kekasih alam
Disela angin muara lembut
gugurkan bulu-bulu jagung muda
Rasakan bagaimana mesra pelukan senja
yang dihias sekelompok walet
Disini ditepi kali Serayu
pasti iri menjadi makhluk tuhan yang lain
Menjadi gerimis meluncur terjun ke daun-daun kuping gajah
Gabung ke kabut menyentuh segala pucuk pinus
Apa menjelma embun pagi menyapa kembang kecubung
Jika menginap di rumah-rumah desa disini
Angin malam akan terus membelai rambutmu dari jendela
Dibelakang rumah, ilalang berbunga kesekian kali
Para belalang mencoba melompati bulan
Jangan berhenti mengerdipkan matamu sampai pagi hari
Kalau perlu, bawalah cangkirmu ke tepi kali Serayu
Kata-kata paling indah akan muncul
dari kopi hangat yang masih mengepul
Di Sisi Danau
Di sisi danau
Hari tanpa gerimis
Semut-semut berperahu daun damar
menggapai teratai
Aku muncul dipermukaan
Saat kau sentuh dan genggam
Aku menggeliat pura-pura loncat
Sembunyi dibalik terumbu jejak kakimu
Perlahan kabur parasmu
Oleh gelombang yang kita kerjakan
Sore belum juga reda
Tornado arang jerami
Mengejarmu pergi
Sampai ke jerami suaramu pudar
Di danauku
Tidak semuanya akan karam
Bahkan wajahmu
Sumedang 06
Hari tanpa gerimis
Semut-semut berperahu daun damar
menggapai teratai
Aku muncul dipermukaan
Saat kau sentuh dan genggam
Aku menggeliat pura-pura loncat
Sembunyi dibalik terumbu jejak kakimu
Perlahan kabur parasmu
Oleh gelombang yang kita kerjakan
Sore belum juga reda
Tornado arang jerami
Mengejarmu pergi
Sampai ke jerami suaramu pudar
Di danauku
Tidak semuanya akan karam
Bahkan wajahmu
Sumedang 06
Subscribe to:
Posts (Atom)
